Jakarta, INDIKASI News -- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengendus aroma tak sedap pada proyek PT Pertamina di Merak. Saat ini tim penyelidik tengah melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan bahan dan keterangan dari berbagai pihak. Jika ditemukan bukti yang cukup, KPK tidak akan sengan menjerat petinggi perusahaan plat merah milik pemerintah.
Selain akan membongkar dugaan korupsi ditubuh Pertamina terkait proyek do Merak, KPK berjanji bakal mengawal aktivitas PT Pertamina agar terbebas dari segala tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). KPK pun akan membentuk satuan tugas (satgas) untuk memantau pengadaan minyak yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut.
"Kami berjanji menindaklanjuti permintaan Pertamina melalui pembentukan satuan tugas khusus pengadaan minyak," kata Ketua KPK Agus Rahardjo saat menerima kunjungan Direktur Utama PT Pertamina Dwi Soetjipto di Gedung KPK, Jakarta, kemarin.
Menurut Agus, satgas pengadaan minyak nantinya berfungsi seperti tim pemeriksa tata niaga beras yang telah dibentuk KPK tahun lalu. Satgas pengadaan minyak dibentuk karena banyak hal yang perlu pendampingan untuk menyelidik banyak hal di tubuh Pertamia, perusahaan plat merah milik pemerintah.
Agus menjelaskan, saat ini memang ada indikasi dugaan korupsi di proyek Pertamina di Merak, Banten. Oleh karena itu pihaknya juga akan segera menindaklanjutinya temuan tersebut dengan mengirim satuan tugas ke Merak. Satgas akan mendalami dugaan korupsi tersebut dan nantinya akan segera memberi rekomendasi.
"Pendampingan untuk PT Pertamina ini perlu karena investasinya besar. Pak Dwi ingin Pertamina selalu menegakkan integritas, menjadi lebih transparan menegakkan governance dan semua bisa kita lakukan," jelasnya.
Rawan Kecurangan
Sementara itu Dwi Soetjipto mengatakan, pihaknya berharap KPK bisa memantau aktivitas yang rawan kecurangan seperti pengadaan barang dan jasa yang dilakukan Pertamina. Pemantauan oleh KPK juga dilakukan untuk menghindari adanya kesalahan.
"Aspek pengawasan, mencakup aksi pengadaan dan pengendalian tata kelola arus minyak, pelaksanaan proyek, dan kontrak-kontrak. Diketahui salah satu proyek besar yang tengah dikerjakan perseroan adalah pembangunan kilang," katanya.
Menurut Dwi proyek kilang termasuk urusan strategis karena bernilai besar. Diketahui ada tiga kilang Pertamina yang akan direvitalisasi dan dua kilang baru yang akan dibangun. Untuk revitalisasi satu kilang, kebutuhan biaya mencapai 7 miliar dolar AS.
Sementara pembangunan kilang baru membutuhkan lebih butuh banyak biaya, yakni sebesar 15 miliar dolar AS. Tiga kilang yang direvitalisasi adalah Kilang Balongan, Dumai, dan Balikpapan. Sementara kilang baru bakal dibangun di Tuban dan Bontang.
Sedangkan aspek pengadaan strategis, ujar Dwi, terletak pada divisi Integrated Supply Chain (ISC) yang mengurusi pengadaan minyak Pertamina. Sejak tahun lalu aktif mengurus impor minyak, ISC mencetak efisiensi senilai 208 juta dolar AS. Tahun ini, efisiensi pengadaan minyak ditargetkan terpangkas hingga 100 juta dolar AS. (ht-rd)
