Mataram, INDIKASI News -- Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menolak bantuan kerbau impor dari Kementerian Pertanian yang akan dikembangkan di salah satu kabupaten dengan alasan mencegah masuknya penyakit berbahaya yang dibawa dari daerah lain.
"Kerbau daerah kita lebih lebih bagus, kami tidak ingin ada kerbau luar membawa penyakit. Daerah kita ini kan bebas penyakit kerbau," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Nusa Tenggara Barat (NTB) Hj Budi Septiani, di Mataram, Minggu (21/6).
Ia memperkirakan ada usulan dari Kabupaten Sumbawa untuk mendatangkan kerbau dari luar untuk dikembangkan di sentra kerbau terbanyak di NTB itu.
Namun, ketika menerima surat tembusan dari Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu, Budi mengaku langsung membuat surat penolakan.
"Pada saat Menteri Pertanian berkunjung beberapa waktu lalu, saya minta dana bantuan untuk kerbau impor itu dikembalikan ke NTB, tapi dengan pendekatan kerbau lokal," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa Syafruddin Nur, mengatakan pihaknya menginginkan agar pemerintah tidak hanya fokus pada peningkatan populasi sapi, tapi juga kerbau yang sudah menjadi ikon Sumbawa.
Menurut dia, kerbau adalah ternak asli yang dipelihara masyarakat Sumbawa sejak zaman dahulu dan sudah diekspor ke sejumlah negara. Oleh sebab itu, pihaknya ingin mengembalikan kejayaan pemeliharaan kerbau.
"Kerbau Sumbawa ini jaya sejak 1940-an karena dikirim ke sejumlah negara. Salah satunya Hongkong. Itu pertimbangan kami mengembalikan kejayaan masa lalu," katanya beberapa waktu lalu.
Syafruddin menambahkan pemeliharaan kerbau saat ini memang sudah bergeser ke ternak ruminansia jenis sapi. Hal itu disebabkan masyarakat menilai pemeliharaan sapi lebih sederhana, tahan panas dan sumber pakannya relatif tersedia.
Sistem pemeliharaan juga tidak membutuhkan kandang karena dilepas secara liar di alam bebas, sehingga sapi bisa mencari makan sendiri. Pola pemeliharaan itu disebut sistem Lar.
Dari sisi refroduksi, kata dia, sapi juga dianggap oleh masyarakat cepat beranak dibandingkan kerbau, sehingga menguntungkan secara ekonomi.
Namun, kerbau juga memiliki nilai ekonomi tinggi, terutama jika sering digunakan dan menang dalam Karapan Kebo (Balapan kerbau).
"Apalagi kapasitas badannya bagus dan mencapai kriteria kerbau seperti masyarakat Tana Toraja. Kalau itu bisa dilakukan pemilik kerbau, bisa mendatangkan keuntungan besar," ucap Syafruddin.
Upaya untuk membangkitkan kejayaan kerbau Sumbawa, lanjutnya, dilakukan dengan cara membangkitkan tradisi Barapan Kebo setiap tahun. Tradisi ini bahkan sudah menjadi rangkaian Festival Moyo yang sudah dijadikan kalender pariwisata tetap oleh Pemerintah Kabupaten Sumbawa tiga tahun lalu.
Selain itu, mengembangkan kembali sentra produksi kerbau yang tersebar hampir di 24 kecamatan di Kabupaten Sumbawa, seperti Maronge, Tarano dan Empang.
"Khusus di Maronge, kami akan membangun unit pelaksana teknis dinas (UPTD) khusus untuk kerbau. UPTD seluas 20 hektare itu akan menjadi pusat pengembangan dan laboratorium kerbau di Sumbawa," katanya. (ht)
