• Latest News

    29 June 2015

    1 Kompi Brimob Disiagakan Polres Sampang di Kampung Syiah

    Sampang, INDIKASI News -- Polres Sampang, Pulau Madura, akan menyiagakan sebanyak 1 kompi pasukan Brimob Polda Jatim di kampung Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben pada masa menjelang hingga Lebaran Idul Fitri 1436 Hijriah nanti.

    Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Sampang AKP Syaiful Anam, Minggu (28/6) mengatakan, langkah itu dilakukan untuk menjaga kemungkinan ada warga syiah yang hendak pulang kampung merayakan Lebaran di tempat tersebut.

    "Intinya personel yang akan kami siagakan itu untuk mengantisipasi saja, sebagian besar masyarakat belum bisa menerika mereka, karena berbeda paham," katanya.

    Penganut aliran Islam Syiah di Kabupaten Sampang, Madura ini terdapat di dua desa, yakni Desa Karang Gayam, Kecamatan Ombem, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang.

    Dua tahun lalu, terjadi konflik keluarga pada keluarga pimpinan penganut Syiah itu, yakni antara Pimpinan Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya Roisul Hukama.

    Kedua kakak adik awalnya merupakan sama-sama penganut paham Syiah. Namun, sejak adanya konflik keluarga itu, Roisul Hukama akhirnya berbeda paham, dan konflik bersaudara ini, meluas menjadi konflik agama, hingga penganut Islam Syiah terusir dari kampung halamannya, karena dinggap mengajarkan aliran Islam sesat.

    Kelompok Islam Syiah pertama kali diserang warga, karena dinilai menyebarkan paham sesat pada pertengahan 2011. Kala itu, pondok pesantren, tempat ibadah dan lembaga pendidikan Syiah di Desa Karang Garam, Kecamatan Omben, Sampang dibakar massa.

    Ratusan orang terpaksa mengungsi ke GOR Wijaya Kusuma Sampang, dan konflik ini berakhir berkat mediasi pemerintah dan petugas keamanan setempat.

    Namun, ketenangan warga Syiah tidak berlangsung lama. Pada 28 Agustus 2012, penyerangan oleh sekelompok orang kembali terjadi.

    Kala itu, aksi penyerangan lebih parah. Kelompok penyerang tidak hanya menjadikan pimpinan Syiah sebagai sasaran, akan tetapi mereka juga membakar puluhan rumah masyarakat, pengikut ajaran Islam Syiah.

    Pemerintah telah melakukan upaya untuk memediasi konflik bernuasa Sara ini. Di antaranya dengan membujuk masyarakat dan ulama Sampang agar tetap menerima mereka, tapi ditolak.

    Akhirnya, Pemprov Jatim merelokasi warga korban penyerangan ini ke rumah susun di Puspa Agro Sidoarjo.

    Menurut Kepala Bagian Operasional Polres Sampang AKP Syaiful Anam, selama dua kali Lebaran, memang tidak ada warga Syiah yang merayakan Lebaran di kampung halamannya.

    "Siapa tahu pada Lebaran tahun ketiga pascamereka pindah ke Sidoarjo itu, ada warga Syiah yang hendak merayakan Lebaran di kampung halamannya. Makanya, kami siapkan personel khusus untuk berjaga-jaga di sana," katanya menjelaskan. (ht)
    Scroll to Top