Jakarta, INDIKASINews -- Ketua Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Yaqut Cholil Quomas memastikan organisasinya akan netral dalam Pemilihan Kepala Daerah 2017. Langkah itu diambil oleh organisasi yang memiliki anggota sebanyak 1,7 juta orang itu agar tak ada perpecahan dalam organisasinya.
"Secara organisasi kami netral. Tapi kami membebaskan anggota kami kalau ada yang ingin bergabung dengan salah satu pasangan calon nanti," kata Yaqut dikutip Antara di Jakarta, Minggu (24/4/16).
Mulai memanasnya bursa calon yang akan bertanding di Pilkada DKI Jakarta tahun depan diakuinya memang cukup berpengaruh terhadap organisasi yang ia pimpin. Sampai saat ini saja, sudah tiga orang bakal calon gubernur DKI Jakarta yang mendatangi GP Ansor untuk meminta dukungan. Salah satunya, Ahmad Dhani.
"Ya wajar kalau Ahmad Dhani ke mari (GP Ansor). Dia kan salah satu kader kami juga," kata dia.
Ke depannya, bukan tidak mungkin GP Ansor secara organisasi menentukan haluan pada salah satu kandidat. Tapi biasanya itu dilakukan ketika detik-detik terakhir jelang pelaksanaan Pilkada.
Negara Islam
Disisi lain Gerakan Pemuda Ansor menilai pergerakan kelompok intoleran yang ingin mendirikan negara Islam di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. "Saat ini mereka sudah menyisipkan ideologinya ke buku-buku untuk siswa sekolah bahkan di tingkat kanak-kanak," Yaqut.
Dia mengatakan kelompok tersebut dapat memecah-belah negara Indonesia karena mereka memilki agenda besar untuk merebut kekuasaan negara dan mengubah NKRI menjadi negara Islam.
Kemudian, mereka juga mengkafirkan orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka meski sesama muslim. Menghadapi ancaman tersebut, Gerakan Pemuda Ansor melakukan langkah pencegahan dengan melakukan kaderisasi anggotanya.
"Anggota Ansor sebanyak 1,7 juta orang, kita mengkaderisasi mereka untuk tetap kepada Pancasila dan UUD 1945, dan NKRI," kata dia.
Selain itu, GP Ansor juga melakukan penurunan spanduk yang berisi ajakan untuk membentuk negara Islam.
"Kita temukan spanduk untuk mengajak masyarakat mendirikan negara Islam di Rembang, Ansor melakukan penurunan spanduk tersebut yang tentu saja dilakukam dengan koordinasi dengan aparat kemanan," kata dia.
Dia mengatakan spanduk itu juga ditemukan di Cilegon dan Kediri. GP Ansor mengharapkan peran pemerintah untuk menentaskan kelompok intoleran tersebut karena kelompok-kelompok tersebut legal.
Mengenai buku-buku yang telah beredar di tingkat TK, Ansor juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menertibkan buku-buku itu.
"Buku itu mengajarkan radikalisme sejak kecil, maka kami berkoordinasi dengan kementerian dan aparat keamanan. Saat ini buku-buku tersebut telah ditemukan di Depok, kia juga curiga buku tersebut ada di tempat lain," ujarnya. (ht-red)
