• Latest News

    07 June 2016

    Syarif: Kampanye Ilegal 'Teman Ahok' di Singapura Memalukan

    Jakarta, INDSIKASINews -- Kegiatan kampanye ilegal yang dilakukan Teman Ahok di Singapura, memalukan. Tindakan tersebut juga secara tidak langsung sudah mencoreng nama baik dan sistem demokrasi Indonesia di luar negeri. Apalagi mereka membawa nama Gubernur DKI Jakarta yang merupakan Gubernur Ibu Kota Negara.

    “Saya malu dan sangat memalukan kegiatan kampanye ilegal di negeri orang. Hal itu juga sangat tak etis untuk dilakukan. Kok ngumpulin KTP sampai ke negeri orang, kurang banyak ya? Saya enggak habis pikir sampai segitunya. Malu saya sebagai warga negara Indonesia," kata anggota DPRD Syarif di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, Senin (6/6/16).

    Ketua Tim Penjaringan bakal calon Gubernur Partai Gerindra itu sekaligus menyesalkan sikap pengelakan yang dilakukan Teman Ahok usai dipulangkan dari Singapura. Sebab, kata dia, sudah jelas menyatakan akan mengumpulkan KTP, Bazar dan sharing di Singapura.

    Namun sayang, lanjut Syarif, salah satu pendiri Teman Ahok Amalia Ayuningtyas malah membantah. Padahal, mereka sudah tertangkap basah oleh otoritas Singapura.

    "Bilangnya kesalahpahaman. Jelas-jelas itu kegiatan politik kok. warga Ibu Kota cerdas dan tahu jika Teman Ahok mengadakan kampanye ilegal di Singapura. Sekali lagi memalukan dan kasihan," ucapnya.

    Sementara itu, Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta, Abraham Lunggana (Lulung), menyayangkan peristiwa penahanan dua Teman Ahok di kantor Imigrasi Singapura karena adanya dugaan aktivitas politik. Peristiwa tersebut secara tidak langsung mencoreng demokrasi bangsa Indonesia.

    Lulung mengatakan, setiap negara memiliki peraturan sendiri menyangkut kebijakan politiknya. Seharusnya, kata dia, Teman Ahok melakukan koordinasi sebelum menjalankan kegiatan berbau politik di negeri orang.

    "Kami sangat menyesali adanya peristiwa penahanan dua relawan Teman Ahok. Secara tidak langsung itu sudah mencoreng demokrasi bangsa kita. Apalagi mereka membawa nama Gubernur DKI Jakarta yang merupakan Gubernur Ibu Kota Negara," kata Lulung di Gedung DPRD DKI, Jakarta Pusat, (6/6/16).

    Untuk itu, Lulung mengimbau, sebagai warga Indonesia yang baik apabila mau merencanakan sesuatu ke negara lain harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan kedutaan besar di Indonesia, apalagi kegiatan berbau politik. Sebab, negara lain memiliki cara dan aturan sendiri.

    Kekurangan KTP

    Lulung sekaligus menduga bahwasanya Teman Ahok kekurangan pundi-pundi KTP dukungan bagi Gubernur Ahok untuk maju dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI 2017. Sehingga, lanjut dia, memutuskan untuk menggalang KTP di Singapura.

    "Berbeda dengan pemilihan presiden. Pilkada mereka harus kembali ke Jakarta, nggak bisa memilih disana. Masa kayak gitu aja ga tau Ini kan dalam rangka jemput bola, ini kan ada kekhawatiran juga Teman Ahok nantinya kan juga akan berdebat soal independen atau soal menggunakan partai. Artinya masih ada kekhawatiran itu lah," ujar dia.

    Untuk diketahui, keberangkatan dua founder Teman Ahok ke Singapura, ternyata tak diketahui oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Adanya insiden tersebut, disayangkan oleh Ahok. Bahkan, dirinya terkesan menyalahkan langkah keberangkatan kedua founder tersebut.‎

    Ahok mengungkapkan, baru tahu ada dua founder Teman Ahok yang pergi setelah ada kejadian penahanan di Kantor Imigrasi Singapura.

    "Saya enggak tahu. Saya tahunya setelah mereka sibuk dan ada orang kirimin ke saya berita waktu ditawan di imigrasi," kata Ahok di Balaikota DKI, Jakarta Pusat, Senin (6/6/2016).

    Setelah mendengar kejadian tersebut, Ahok segera menghubungi Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Anil Kumar Nayar. Dia menjelaskan Singapura memang punya peraturan yang melarang warga negara asing datang dengan kegiatan berbau politik.

    "Orang Filipina juga dilarang melakukan kegiatan waktu pilpres mereka. Jadi penggalanagan (KTP) juga enggak boleh. Kan (posternya) sudah disebar kemana-mana," ucap Ahok.

    Adapun Ahok terkesan menyalahkan tindakan kedua founder tersebut. Menurut dia, Teman Ahok seharusnya menghormati peraturan yang berlaku di Singapura.

    Ia menjelaskan, Teman Ahok awalnya memang akan mengumpulkan KTP di Singapura. Namun belakangan jenis kegiatan tersebut sudah dirubah menjadi festival kuliner.

    "Memang diakui itu (jenis kegiatan) diganti. Tapi bagi orang Singapura ganti enggak diganti kamu sudah niat nya itu, ya enggak boleh," terang Ahok.

    Dua founder yang sempat ditahan di Immigration Checkpoints Authority (ICA) Singapura adalah Amalia Ayuningtyas dan Richard Handris Saerang. Keduanya dipulangkan ke Indonesia kemarin pada pukul 10.00 WIB.

    Sejauh ini, Teman Ahok beralasan hanya menghadiri acara kuliner di Singapura. Meski begitu Teman Ahok mengaku kejadian ini menjadi pelajaran. "Ini pelajaran bersama. Kami menghormati peraturan di negara Singapura," kata Amalia kemarin. (ht-rd)
    Scroll to Top