Jakarta, INDIKASI News -- Negeri ini berusaha bangkit dari keterbelakangan dan ketertinggalan. Maju dan bersaing dengan negara-negara lain. Bisakah semua itu diraih?
Berbagai kalangan pesimis semua itu bisa diraih mengingat terlalu banyak persoalan yang dihadapi negeri ini, mulai dari kegaduhan politik, korupsi yang terus berlangsung, sampai kepada persoalan tidak cerdasnya pemimpin untuk mengelola negeri ini.
Dan pesoalan utama adalah tidak diperhatikannya pendidikan sebagai landasan utama membangun negara ini. Jadi, dalam kondisi seperti itu hanya omong kosong pernyataan pemimpin negeri ini Indonesia akan mampu untuk bangkit dan maju bersaing dengan negara-negara lain.
Rendahnya kualitas pendidikan formal dan informasl di negeri ini sudah sejak lama diteriakkan berbagai kalangan, namun tetap saja tidak pernah ada upaya terobosan yang dilakukan setiap rezim yang berkuasa di negeri ini.
![]() |
| Ilustrasi |
Tak heran apabila berdasarkan data The Learning Curve Pearson (2014), sebuah lembaga pemeringkatan pendidikan duni, memaparkan jika Indoneia menduduki posisi bontot alias akhir (posisi 40) dalam mutu pendidikan di seluruh dunia.
Kritik terhadap rendahnya kualitas pendidikan disampaikan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI). Organisasi ini menyoroti masalah rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia yang jauh tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia.
APKASI menyebutkan, pendidikan kita masih jauh dari harapan, padahal dulu banyak negara masih jauh di bawah Indonesia, bahkan negara seperti Malaysia banyak belajar ke Indonesia, tapi sekarang kualitas pendidikan mereka lebih baik daripada kita.
Kita akui akibat rendahnya kualitas pendidikan juga telah menyebabkan berbagai bidang dan sektor di tanah air jadi jauh tertinggal dari negara-negara lain. Seharusnya, lewat pendidikan berkualitas akan melahirkan manusia-manusia berkualitas yang pada akhirnya membawa kemajuan berbagai sektor dan bidang bagi suatu negara.
Untuk meningkatkan mutu pendidikan tentu pemerintah harus menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan. Mulai saat ini jangan ada lagi bangunan sekolah yang rusak, ambruk. Saat ini harus kita akui sekolah rusak memang kerap terjadi di hampir seluruh daerah, termasuk di Ibukota negara DKI Jakarta.
Infrastruktur bangunan sekolah yang tidak memadai disebabkan faktor termakan usia. Selain itu juga kurangnya perawatan yang dilakukan pengurus sekolah terhadap keberadaan sekolah tersebut.
Tentu kita juga berharap jangan ada lagi guru yang mengajar seadanya. Kualitas dan kesejahateraan mereka harus ditingkatkan. Untuk keperluan ini negara harus menyiapkan anggaran yang besar. Maka, pemerintah harus secara terus menerus meningkatkan kompetensi guru. Dan terpenting adalah pendidikan dan sekolah-sekolah gratis harus terus dilakukan.
Selain itu kita perlu memperbanyak kegiatan praktik untuk menghasilkan lulusan berkualitas. Pola pembelajaran yang masih didominasi cerita (teori) tanpa praktik harus dikurangi. Bukankah gagalnya sistem pendidikan dikarenakan terlalu banyak teori yang diberikan pengajar kepada siswanya.
Pakar pendidikan menyebutkan idealnya sistem pendidikan kita adalah 80 persen praktik dan 20 persen teori. Jangan sebaliknya. Jika ini dilakukan sekolah kita tidak hanya mencetak pencari kerja, tapi pencetak peluang kerja. Faktanya, 20 persen lulusan pendidikan tinggi di Indonesia saat ini masih menganggur.
Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga masa depan bangsa serta menjadi fondasi kuat di tengah sengitnya persaingan regional dan global. Itulah sebabnya pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) harus bekerja keras untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Tentu peran seluruh elemen masyarakat sangat diharapkan.
Lahirnya anak-anak Indonesia yang cerdas dan hadirnya sumber daya manusia yang berdaya saing tinggi, berwawasan iptek, serta bermoral dan berbudaya sangat diharapkan agar bangsa kita tidak menjadi tamu terasing di negerinya sendiri. Juga agar negeri ini tidak terjajah oleh budaya asing dan terpaksa menari diatas irama gendang orang lain.
Kita masih menghadapi sejumlah masalah yang sifatnya berantai sejak jenjang pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Rendahnya kualitas pada jenjang sekolah dasar sangat penting untuk segera diatasi jika kita ingin bangsa ini maju dan mampu bersaing dengan bangsa lain. (ht-glen)
