Papua, INDIKASI News -- Dalam kunjungan kerjanya selama tiga hari di Papua mengunjungi Kabupaten Merauke, Asmat dan Mappy direncanakan dari tanggal 23 s/d 25 Februari 2016, Menteri di damping Deputi Perlindungan Anak.
Dalam kunjungan kejanya di Merauke Papua, Selasa (23/2) melakukan Kampanye laki-laki untuk perempuan dihadapan 450 orang Peserta Rapat kerja Am Sinode GKI di Tanah Papua yang berlangsung di Gedung Gereja Ottow Merauke.
Bagaimana kesetaraan jender ini harus diangkat supaya laki-laki dan perempuan berjalan setara, secara harmonis untuk membawa perempuan-perempuan dan anak-anak ke depan.
![]() |
| Menteri PPPA Dr. Yhana Yembise melakukan kampanye laki-laki untuk perempuan dihadapan 450 orang Peserta Rapat kerja Am Sinode GKI di Tanah Papua di Merauke |
Dalam kampanya tersebut Menteri Dr. Yahana Yembise mengatakan bahwa Negara ini belum aman dan belum maju bila perempuan belum berada di garis aman. Menyelamatkan satu perempuan berarti menyelamatkan satu bangsa.
Motto ini harus dipegang dengan baik karena kita di papua menyelamatkan satu perempuan berarti menyelamatkan tanah papua. Ini sudah merupakan kampanye global, Bapak Presiden kemungkinan pada bulan depan melakukan loongsing di tanah air kita secara nasional “He hos she” laki-laki untuk perempuan, ungkap Menteri Dr, Yahana Yembise.
Lebih jauh Menteri Yahana Yembise mengatakan Indonesia sudah masuk dalam sepuluh Negara besar sekarang membawa perempuan-perempuan ke planet 50/50 ditahun 2030, jadi bukan 30/70 lagi yang selama ini berlaku. Tinggal 15 tahun lagi, semua Negara sedang berlomba. diantaranya 10 Negara sekarang dipakai untuk berlomba mengangkat perempunan perempuannya ke planet 50/50 di tahun 2030.
Menyadari sebagai perempuan asal papua yang mengkampanyekan kesetaraan jender menteri memberikan tantangan dengan berkata “Apakah di papua sudah siap untuk itu “? Saya meminta agar perempuan perempuan Papua harus dikedepankan dalam semua aspek pembangunan,termasuk perempuan dilegislatif. Karena ini adalah tehun kebangkitan perempuan Indonesia termasuk perempuan di tanah papua.
Untuk membawa perempuan papua kedepan dari sisipositif sudah banyak yang maju, mengikuti pendidikan tinggi, sudah menduduki kedudukan-kedudukan strategis, namun masih dominasi laki-laki dan saya pada kesempatan ini meminta kepada Gereja untuk membantu pemerintah membawa perempuan-perempuan kedepan.
Sesuai dengan indeks pembangunan manusia ,pembangunan jender ada tiga provinsi yang sudah mencapai ini yaitu : provinsi Sulawesi Utara, DKI Jakarta dan Daerah Khusus Jogjakarta, yang sudah memenuhi indeks pembangunan jender dan mengarah ke 50/50.
Salahsatu hal yang masih merupakan perhatian khusus untuk kami yaitu di tanah Papua, bahwa tanah ini adalah tanah yang sudah diberkati sejak 1855, namun setelah berapa ratus tahun ini berjalan, masih ada kekerasan di atas tanah ini, dan papua tercatat, data masuk dari konas perempuan, dari LSM-LSM internasional, kekerasan dalam rumah tangga dan perempuan menjadi korban tertinggi ada di Tanah Papua, dan ini adalah fakta , menlihat dari kenyataan yang demikian Yohana meminta kepada gereja untuk bersama-sama berusaha untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan yang imbasnya adalah anak-anak juga mengalami kekerasan , menyinggung soal perlindungan anak Yohana menyatakan bahwa sudah ada undang-undang perlindungan anak, karena terakhir data yang muncul, paling tinggi adalah korban anak-anak percabulan, kekerasan seksual terhadap anak-anak dibawah umur, itu yang sekarang sedang berkembang bukan saja di daerah luar, tetapi ditanah paua juga demikian, saya mengecek dikabupaten merauke ini juga makin meningkat kekerasan seksual terhadap anak dibawah umur. Kami sekarang sedang mengankat undang-undang ini, supaya barang siapa mencabuli anak-anak dibawah umur dikenakan pidana lima tahun penjara dan denda sekitar satu milyard sampai lima milyard Rupiah.
Anak-anak ini adalah asset kita , asset tanah papua, kami yang ada ini hanyalah sementara lagi produktif, yang meneruskan adalah anak-anak ini, kita harus menjaga mereka jangan lagi ada anak-anak jalanan, jangan lagi ada anak-anak airbon,narkoba,miras, kita harus putuskan mata rantai itu, sehingga kedepan 25 sampai 50 tahun kedepan akan muncul anak-anak papua yang andalkan berkwalitas dan siap bersaing dengan provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. (rb/bym)
