• Latest News

    19 February 2016

    Munculnya Nabi Palsu di Jombang Membuat Keresahan yang Masif

    Jakarta, INDIKASI News -- Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Sodik Mujahid, mengaku miris sekaligus kecewa dengan masih banyaknya perilaku manusia yang memiliki sifat menyimpang khususnya soal agama.

    Hal itu disampaikan Sodik terkait dengan munculnya seorang pria bernama Jari (44), warga Dusun Gempol, Desa Karang Pakis, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur (Jatim), yang mengklaim dirinya sebagai Nabi Isa dan memiliki Pondok Pesantren (Ponpes) serta pengikut yang banyak.

    "Semakin banyak orang stres dan orang itu pernah sedikit belajar agama maka pelampiasan stres bernuansa agama," kata Sodik. dilansir harian terbit.com Kamis (18/2/16).

    Politikus Partai Gerindra ini menuturkan, masalah pendidikan agama adalah suatu hal mendasar dan sedari awal pondasi keimanan harus dibentuk agar bisa kuat mentalnya. "Inilah yang terjadi pada pria yang mengaku sebagai Nabi. Tidak memiliki pondasi serta iman yang kuat akhirnya membawa mental jatuh," terangnya.

    Karena itu, Sodik berharap, agar kasus-kasus seperti adanya Nabi palsu ini harus mendapat perhatian serius dari pemerintah serta pemangku kepentingan semisal Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar dapat bergerak cepat untuk dapat menyelesaikan kasus tersebut.

    "Untuk kasus-kasus seperti ini yang dari sisi konsep sudah sangat aneh serta akan membuat keresahan yang masif, maka MUI dan pemerintah harus cepat merespon hal ini," tegasnya.

    Sebelumnya diberitakan, pria bernama Jari (44), warga Dusun Gempol, Desa Karang Pakis, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Jatim, mengklaim dirinya sebagai Nabi Isa. Jari yang juga menyebut namanya Raden Aryo ini mengaku menerima wahyu untuk meluruskan ajaran Islam pada akhir zaman.

    Jari beserta keluarganya saat ini tinggal di rumahnya yang juga kompleks Pondok Pesantren Ash Shiroth di Dusun Gempol. Kepada wartawan, suami Umi Lutfiati (46) ini blak-blakan mengisahkan pengalaman pertamanya menerima wahyu. Saat itu dia menuntut ilmu di sebuah Pondok Pesantren di Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Mojokerto.

    "Pada malam Jumat legi akhir tahun 2004, saat saya sedang sujud salat malam pukul 03.00 WIB, saya dipanggil Allah `Yaa Sin` sebanyak 7 kali. Saat itu saya menangis," papar Jari, Selasa (16/2).

    Jari mengklaim, insiden pada suatu malam itu sebagai wahyu yang turun kepadanya. Menurut dia, bisikan gaib tersebut menunjuk dirinya sebagai Nabi Isa sebagai tanda akhir zaman. Dia ditugaskan untuk meluruskan ajaran syariat, tarekat, hakikat, dan ma`rifat umat Islam.

    "Misalnya dalam ibadah salat, mulai takbir sampai salam ada tafsir yang selama ini belum terjawab terkait makna dari setiap gerakan salat," urainya.

    Tak hanya mengklaim dirinya sebagai Nabi Isa, Bapak dua anak ini juga menambah sebuah kalimat dalam syahadat yang selama ini dianut umat Islam. Yakni kalimat `Wa Isa Habibullah` atau dan Isa kekasih Allah. Kalimat kesaksian itu dikhususkan bagi para pengikutnya.

    "Syahadat Isa itu tidak diucapkan dalam salat. Hanya sebagai kesaksian bahwa saya Isa Habibullah, Isa kekasih Allah," ungkapnya.

    Kendati demikian, lanjut Jari, dirinya tak mengingkari ajaran Islam. Dia bahkan masih menganut kitab suci Alquran dan hadist sebagai salah satu petunjuk dalam ajarannya.

    Selain mengaku Nabi Isa, Jari juga sudah mendirikan Pondok Pesantren Kahuripan Ash Shiroth di Dusun Gempol, Desa Karang Pakis, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. Kini Jari memiliki puluhan orang pengikut yang rajin mengikuti pengajian di pesantren tersebut.

    "(Pengikut) laki-laki sekitar 50 orang. Kalau yang perempuan lebih dari 50 orang. Ada yang warga sekitar, dari Mojokerto, Madiun, Tuban, dan Surabaya," imbuh Jari.

    Sementara salah seorang pendiri Ponpes Kahuripan Ash Shiroth yang juga pengikut Jari, Trd (63) menjelaskan, setelah menerima wahyu pertama akhir 2004 silam, Jari menerima petunjuk untuk mendirikan Pondok Pesantren di tanah kelahirannya. Selain untuk berdakwah, Jari konon juga bisa mengobati orang sakit dengan cara tradisional.

    Menurut dia, niat itu baru terwujud pada 2006 setelah mendapatkan sumbangan dari para pengikutnya. Baik berupa tanah wakaf dan juga dana untuk pembangunan pondok. Dengan susah payah, Juli 2015 pondok pesantren Ash Shiroth di Dusun Gempol selesai dibangun. Di dalam pondok ini terdapat sebuah masjid dan 2 bangunan rumah yang kini ditempati keluarga Jari dan Trd.

    "Setelah masjid selesai dibangun, pengajian digelar di sini," sebutnya.

    Puluhan jamaah itu datang ke Ponpes Ash Shiroth untuk mengaji 2 kali dalam sebulan. Yakni pada malam tanggal 1 dan 15 setiap bulan. Menurutnya, pengajian rutin itu membahas ajaran yang diterima oleh Jari yang diklaim sebagai wahyu dari Allah SWT. "Wahyu-wahyu itu ditulis beliau (Jari) dalam kitab Risalah Ilahiyah," tukasnya.

    Sebagai salah seorang pengikut, Trd mengaku meyakini Jari sebagai Nabi Isa yang dibekali 4 kitab oleh Allah SWT. Dia menyebutnya sebagai Peti Amanah Rasuli. Peti gaib itu berisi 4 kitab. Antara lain, Kitab Suci Alquran, Hadist, Fafiru Ilalloh, dan Kitab Risalah Ilahiyah.

    Kitab Risalah Rasuli, menurut Trd, merupakan kitab karangan Jari yang ditulis berdasarkan wahyu yang diterima oleh pria yang mengklaim dirinya sebagai Nabi Isa itu.

    "Isinya 5, yakni tentang tauhid, ubudiyah dan muamalah (ibadah dan pekerjaan), cinta tanah air, zaman akhir, dan sial atau selamatnya manusia di zaman akhir. Kitab dari wahyu itu ditulis untuk didakwahkan," pungkasnya. (ht-rd)
    Scroll to Top