• Latest News

    03 July 2017

    CIIA: Teror di Mabes Polri Merupakan Bentuk Serangan Balas Dendam

    Jakarta, INDIKASINews -- Pengamat terorisme dari Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya menilai teror di Markas Polda Sumatera Utara dan Mabes Polri merupakan bentuk serangan balasan dari pelaku teror. Apalagi sebelumnya aksi penangkapan dilakukan Detasemen Khsusus 88 Antiteror Polri terhadap sejumlah terduga teroris usai aksi teror di Terminal Transjakarta Kampung Melayu, Jakarta Timur.

    Menurutnya, rekan-rekan terduga pelaku teror yang telah ditangkap marah dan tidak terima dengan berbagai upaya yang dilakukan polisi. Saat ini Densus 88 telah menangkap 42 orang terduga teroris usai insiden bom di Terminal Transjakarta Kampung Melayu. Sebanyak lima orang di antaranya kemudian dilepaskan karena tidak ditemukan keterkaitan dengan aksi teror mana pun dalam proses pemeriksaan.

    "(Setelah) bom di Terminal Kampung Melayu, polisi itu menangkap sekitar 50 orang. Ini di antara kawan-kawannya, dan mereka marah," kata Harits.

    Dia menilai serangan teror di Mabes Polri harus menjadi pelajaran bagi polisi untuk bertindak lebih profesional dalam mengatasi masalah terorisme. Harits menyayangkan langkah polisi yang menembak mati pelaku teror di Mabes Polri. Karena hal tersebut membuktikan bahwa ada kelemahan polisi dalam menggunakan hak diskresi yang dimiliki dan dapat melahirkan aksi teror lebih besar.

    Intelijen

    Terpisah, anggota Komisi III DPR Nasir Djamil meminta kepolisian mengedepankan fungsi intelijen dan meningkatkan kewaspadaan. Itu diperlukan agar bisa cepat mendeteksi orang-orang mencurigakan yang bakal melakukan kejahatan. Apalagi aksi teror terhadap kepolisian kembali meningkat hingga membuat dua personel Brimob menjadi korban penusukan di Masjid Falatehan Blok M, Jumat 30 Juni 2017 malam.

    "Kejadian ini juga membuat program deradaikalisasi harus dilakukan secara masif kepada kelompok yang rentan disusupi jaringan terorisme," ujar Nasir, Minggu (2/7/17).

    Politisi PKS ini menilai, aksi teror terhadap polisi menunjukkan kejahatan terhadap Polri belum berhenti. Namun, penindakan harus tetap sesuai standar operasional prosedur (SOP). Nasir memahami aparat harus mengambil tindakan tegas sehingga pelaku tewas. Tindakan itu memang sulit dihindari, namun akan sulit mengungkap yang sebenarnya terjadi.

    "Tentu semua ingin pelakunya dilumpuhkan hidup-hidup sehingga akan terjawab motif dan siapa pelaku sebenarnya," tegas Nasir.

    Jalani Operasi

    Sementara itu, proses operasi plastik terhadap dua anggota polisi dari korps Brimob korban penusukan di Jakarta Selatan, pada Jumat 30 Juni 2017 malam, berjalan sudah dilakukan. Operasi tersebut dilakukan, lantaran kedua korban mengalami luka serius sehingga segera menjalani operasi di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

    Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rikwanto mengatakan, dokter ahli bedah plastik telah melakukan tugasnya dengan baik di kamar operasi yang selesai pada Minggu (2/7/17), sekira pukul 04.00WIB dini hari.

    Sebelumnya dua anggota Brimob, yakni AKP Dede Suhatmi dan Briptu Syaiful tersebut menjadi korban penusukan usai Salat Isya di Masjid Falatehan, Jumat (30/6/017) malam. Keduanya mengalami luka-luka di bagian leher dan perut usai ditikam pelaku yang belakangan diketahui bernama Mulyadi. Pelaku penusukan jatuh terkapar di atas jalan aspal setelah ditembak mati.(ht-red)
    Scroll to Top