• Latest News

    17 June 2017

    Ada Oknum Jendral Terlibat Kasus Novel Baswedan?

    Jakarta, INDIKASINews -- Sudah 65 hari kasus penyiraman air keras terhadap penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan berlangsung, namun hingga saat ini belum juga terungkap. Pelakunya masih bebas berkeliaran. Sementara itu, Novel mengaku ada jenderal polisi diduga terlibat dalam kasus ini. Sejumlah kalangan mendesak oknum jenderal itu ditangkap. Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta membentuk Tim Pencari Fakta Gabungan (TPFG) sehingga kasus ini bisa diungkap, dan semua yang terlibat bisa dijebloskan ke penjara.

    Indonesia Police Watch (IPW) menilai pengakuan Novel ada dugaan jenderal terlibat sekaligus menjadi babak baru dalam kasus teror penyiraman air keras kepada penyidik KPK tersebut.

    "Untuk itu kasus ini perlu dituntaskan dan pelakunya ditangkap, agar tudingan novel ini tidak menjadi spekulasi dan bola liar,” papar Ketua Presidium Neta S Pane dalam penyampaiannya, Kamis (15/6/17).

    Neta menambahkan Sepintas publik bisa membenarkan tudingan Novel. Ada dua indikasi, pertama, selama ini publik tahu persis oknum polisi tertentu dan Novel bermusuhan. Kedua, publik melihat bahwa selama ini Polda Metro Jaya tak kunjung mampu mengungkap kasus penyiraman air keras terhadap Novel. Dari kedua kasus ini seolah bisa menjadi pembenaran terhadap tudingan Novel.

    Presiden Jokowi

    Sementara itu Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak mengemukakan, kesaksian Novel terkait dengan ada dugan Jenderal yang terlibat agaknya harus menjadi perhatian bagi Presiden Joko Widodo. Menurutnya, kasus Novel tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.

    Apalagi, lanjut Dahnil, adanya dugaan dan kecurigaan kepada institusi terkait turut terlibat. “Kami mendesak agar Presiden Joko Widodo untuk secara serius memimpin langsung untuk mengungkapknya. Karena penyerangan terhadap Novel bukan sekedar penyerangan pribadi tetapi adalah teror Bagi pemberantasan korupsi," kata Dahnil Anzar di Jakarta, Kamis (15/6/17).

    Dia malah mengemukakan, Presiden Joko Widodo hendaknya yang memimpin langsung upaya perlawanannya dengan membentuk TPFG . Anggotanya harus tokoh-Tokoh yang kredibel dan dapat di percaya oleh publik.

    “Bila tidak, maka teror-teror terhadap agenda pemberantasan korupsi akan terus dilancarkan untuk melemahkan upaya pemberantasan korupsi," ujar Dahnil.

    Dahnil menilai, kasus Novel ini bukan ordinary crime tetapi extraordinary crime yang diduga melibatkan banyak pihak yang justru seharusnya menjadi penegak hukum. Jangan biarkan, hukum dijadikan alat untuk melakukan teror terhadap upaya kebaikan di negeri ini, dan Pak Presiden Joko Widodo harus memimpin langsung upaya perlawanan tersebut.

    Terpisah Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengaku tidak mengetahui dugaan keterlibatan pejabat kepolisian dalam kasus Novel tersebut. “Nggak tahu,” kata dia singkat di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/6/17).

    Sementara, Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki juga enggan memberikan tanggapannya saat ditanya oleh awak media. “Itu bukan saya. Tanya kepada juru bicara saja,” kata Teten singkat.

    Sebelumnya, kepada Majalah TIME, Novel Baswedan mengaku heran dengan tak adanya perkembangan penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap dirinya. Ia pun mengaku mendapatkan informasi adanya keterlibatan pejabat kepolisian dalam kasus ini.

    "Saya sebenarnya telah menerima informasi bahwa seorang jenderal kepolisian level tinggi dari jajaran kepolisian terlibat (dalam kasus penyiraman air keras). Awalnya, saya bilang itu informasi yang bisa jadi salah. Namun, kini sudah dua bulan lamanya dan kasus saya tak juga menemukan titik terang. Saya katakan, perasaan saya bahwa informasi itu bisa saja benar,” kata Novel Baswedan, seperti dikutip TIME, Selasa (13/6/17).

    Menanggapi hal itu, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi Mochamad Iriawan pun kaget dan mengaku belum membaca laporan Majalah TIME. Hingga saat ini Novel masih menjalani perawatan mata di Rumah Sakit di Singapura. Novel mendapatkan teror penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal usai menjalankan Solat Subuh di sebuah Masjid di kawasan rum‎ahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa, 11 April 2017, lalu. Akibatnya, Novel mengalami kerusakan mata yang cukup parah.(ht-red)
    Scroll to Top